2 Raja-raja 4:3-4, 6
Kotbah awal tahun sungguh mempesona dan luar biasa. Saya yakin ini yang harus kita sama-sama persiapkan. Tuhan mau setiap kita merentangkan diri kita dan mau membayar harganya. Tuhan mau setiap kita menemukan buli-buli yang kosong dan mengijinkan Dia untuk mengisinya. Karena kalau setiap kita tidak mau menemukan buli-buli yang harus diisi lagi maka sebenarnya minyak dari Tuhan itu berhenti. Tahukah minyak berbicara mengenai kuasa, urapan, berkat, kekuatan, terobosan, pewahyuan dan roh yang menyala-nyala. Kalau setiap kita tidak membuka buli-buli yang baru maka sebenarnya tidak ada sesuatu yang baru yang kita alirkan. Pelayanan boleh jadi masih berlangsung dengan baik tetapi tidak ada minyak yang mengalir dan dilairkan untuk membebaskan yang terbelenggu. Bukankah hal ini berbahaya? Melayani tanpa urapan!
Bapak Lukas Yoesianto (Penatua Senior Gereja Kristen Kemah Daud Jogjakarta) menyampaikan ada 2 buli-buli yang harus diperbanyak:
1. Buli-buli kehausan akan Tuhan
Saya yakin setiap kita sudah memiliki pola pertumbuhan pribadi. Doa, baca firman, puasa dan penyembahan pribadi. Mungkin hal tersebut sudah berjalan bertahun-tahun dan menjadi sesuatu yang rutin. Namun firman Tuhan mengatakan setiap kita harus mencari buli-buli yang baru untuk diisi minyak yang baru dari Tuhan. Buli-buli itu mungkin doa lebih pagi, baca firman lebih banyak, puasa lebih banyak, besuk lebih sering, bersaksi dan menginjil lebih berani. Temukan buli-bulimu dan bayarlah harganya agar supaya bisa diisi oleh Tuhan.
2. Buli-buli kerendahan hati. Berapa banyak pembaca warta yang merasa rendah hati? Saya yakin tak satupun dari kita merasa rendah hati. Oleh karenanya hati ini musti direntangkan sehingga minyak yang baru boleh mengalir. Dari mana kerendahan hati dan kehambaan bisa dibentuk? Mau rendah hati belajar dari orang lain! Mau mengijinkan ada orang yang diatas kita yang memproses dan membentuk kita adalah sikap-sikap unggul dalam menambah buli-buli.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar