Di doa malam jemaat, tiba-tiba Tuhan bertanya, “Nak, apakah kamu pernah gagal?” Sesaat saya tertegun dengan pertanyaan itu dan akhirnya saya jawab, “Seringlah Tuhan!” Lalu mulailah Dia menyatakan isi hatiNya buat saya.
Dia mengatakan dengan jelas, “kalau begitu jangan marah-marah kalau anakmu juga sering gagal.” To be honest saya sering marah dengan anak perempuan saya karena ketidakberesan. Malam itu saya benar-benar tobat.
Bukan hanya itu karena Tuhan melanjutkan didikanNya, “kamu bisa sabar dengan anak-anak rohanimu bahkan dengan orang-orang yang kamu kasih makan di jalan-jalan – tetapi kamu tidak sabar dengan anakmu!” Wah, ini benar-benar templakan kedua yang menghujam di dalam hatiku. Ampun Tuhan … Saudaraku bukankah hal itu seringkali terjadi dalam hidup kita? Sabar dengan orang lain tapi tak sabar dengan anak maupun istri?
Akhirnya di penghujung penyembahan Dia melanjutkan dengan lugasnya, “kamu salurkan kemurahan dan kasih karunia kepada yang terhilang tapi kamu tak berkasih karunia untuk anakmu!” Terdiam saya. Tersungkur saya. Tak berani berkata-kata kecuali ampuni Tuhan. Dia mengatakan, “lepaskan kasih karunia dan punyailah ruang kegagalan bagi anakmu!” Sesaat ada kegentaran untuk mendidik anak karena kegagalan tersebut! Tetapi detik itu juga Dia memberikan penghiburan, “nantikanlah Tuhan maka kamu akan memperoleh hikmat dan wahyu untuk mendidik dengan cara yang benar.”
Biarlah renungan ini menjadi pembelajaran bersama kita sebagai pria, ayah dan suami. Be bold & strong!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar